Sejarah Singkat GPIB Yahya

Melayani Sejak 2 November 1965, dari Jl. Dr. Semeru I No. 50, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Awal Mula (1956–1960)

Pada akhir 1950-an, kawasan Tanjung Grogol (Dr. Muwardi, Dr. Susilo, Dr. Semeru, Dr. Makaliwe, Dr. Nurdin) berkembang sebagai pemukiman baru—menjadi “satelit kota” Jakarta Barat.

Keluarga-keluarga Kristen dari daerah sekitar—Tanjung Duren, Tawakal, Jelambar, dan Kampung Duri—mulai berkumpul dan beribadah di rumah masing-masing karena belum ada gedung gereja tetap.

Persekutuan Oikumene dan Perintis Ibadah

Awalnya, ibadah berlangsung secara oikumene, meminjam ruang kelas di Yayasan Sumbangsih, kemudian berpindah ke TK Tanjung Grogol, dan melibatkan jemaat dari berbagai denominasi seperti Gereja Baptis, GKI, Sidang Jemaat Allah, serta HKBP.

Beberapa anggota akhirnya bergabung kembali dengan gereja induk mereka, sedangkan anggota yang dominan adalah dari GPIB.

Mereka lalu secara resmi terafiliasi dengan GPIB Betlehem di Jl. Pembangunan III/9.

Rumah Ibadah Pertama dan Hari Lahir (1965)

Pada tahun 1960-an, Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie (kemudian berganti nama menjadi Jahya Daniel Dharma) menghibahkan rumahnya di Jl. Dr. Semeru I No. 50 sebagai tempat ibadah.

Pada 2 November 1965, gereja ini ditahbiskan dan resmi dinamai GPIB Jahya—tanggal yang sejak itu diperingati sebagai hari kelahiran GPIB Yahya.

Pengakuan Resmi dan Pejabat Sinode (1969)

Berdasarkan Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB tanggal 31 Oktober 1969 (No. 250/69/MS IX), sejak 2 November 1969, GPIB “Jahya” resmi menjadi jemaat independen bernama Jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat “Jahya” di DKI Jakarta.

Pelayanan Saat Ini

GPIB Yahya terus melayani wilayah Grogol, Tanjung Duren, Tawakal, Jelambar, dan sekitarnya hingga kini.

Saat ini, majelis jemaat dipimpin oleh Pdt. Esther Suthya-Tumansery. Jumlah jemaat sekitar 180 kepala keluarga, termasuk banyak mahasiswa dan simpatisan, bahkan beberapa yang tinggal di luar wilayah pelayanan tetap aktif bergabung di GPIB Yahya

Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya

– Mazmur  127 : 1